Dalam upaya memperkaya diskursus Keislaman dan Kebangsaan di lingkungan perguruan tinggi serta memperluas wawasan akademik mahasiswa tentang dinamika hubungan antara Islam dan negara dalam konteks masyarakat Muslim kontemporer. Pascasarjana UIN Mataram sukses menyelenggarakan visiting lecture dangan topik “Revisiting the Islam-Statet Relationship: The Role of Islamic Movements and Education on Contemporary Developments in Muslim Societies”, pada hari Senin, 3 November 2025, mulai pukul 13.30 hingga 16.00 WITA. Bertempat di Aula Pascasarjana kampus II UIN Mataram.
Dalam visiting lecture ini menghadirkan Prof. Masdar Hilmy, MA., Ph.D. yang merupakan Direktur Pascasarjana periode 2022-2026 dan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya periode 2018-2022. Tujuan kegiatan ini mendorong penguatan integrasi antara ilmu Keislaman dan Keindonesiaan, sehingga mahasiswa mampu memahami relevansi nilai-nilai Islam dalam sistem kenegaraan dan kehidupan berbangsa.


Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Direktur Pascasarjana UIN Mataram Prof. Dr. H. Saparudin, M.Ag. Kaprodi dan Sekprodi lingkungan Pascasarjana, para guru besar dan dosen, serta ratusan mahasiswa Pascasarjana UIN Mataram.
Dalam sambutannya Wakil Direktur Pascasarjana, menyampaikan terimakasih kepada Prof. Masdar Hilmy, MA., Ph.D. sebagai narasumber utama dalam kegiatan ini. Sebagai dosen senior bahkan pernah menjabat sebagai rektor UIN Surabaya dan sekarang sebagai direktur pascasarjana. Beliau terus menjaga shilaturrahim dengan UIN Mataram dengan menjadi dosen tetap kita di Pascasarjana UIN Mataram. Mengingat secara historis, UIN Mataram lahir dari Fakultas Tarbiyah dan Fakultas Syariah IAIN Sunan Ampel Surabaya sekarang UIN Sunan Ampel Surabaya.
“Secara historis, UIN Mataram memiliki akar kelembagaan dari UIN Sunan Ampel Surabaya. Dari sana, kita mewarisi semangat keilmuan, keterbukaan berpikir, dan integrasi kelimuan. Semangat intelektual itulah yang hari ini kita lanjutkan dan aktualisasikan sekalipun hari ini jumlah guru besar UIN Mataram melebehi guru besar di UIN Surabaya yaitu 69 dan 63 professor. Ini bukan masalah mengungguli tapi bentuk keberhasilan UIN Surabaya dalam membina UIN Mataram. Dan setetusnya kita adalah bagian dari UIN Sarabaya (persemakmuran)”, jelas Pak Wadir.
Menurut Wakil Direktur kegiatan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Pascasarjana UIN Mataram dalam menguatkan kultur akademik yaitu tradisi berpikir ilmiah, terbuka, dan reflektif yang menjadi ciri khas UIN atau PTKIN. Melalui kegiatan seperti ini, kita tidak hanya belajar menambah pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan etos ilmiah dan semangat dialog dalam menghadapi persoalan keagamaan dan kebangsaan.
Setelah membuka acara, Wakil Direktur selanjutnya menyerahkan plakat penghargaan sebagai bentuk apresiasi dari Pascasarjana UIN Mataram kepada Prof. Masdar Hilmy, M.A., Ph.D. atas kesediaannya menjadi narasumber dalam kegiatan visiting lecture ini.

Selanjutnya Dr. Dedy Ramdhani, M.Pd.I. selaku pemandu acara mempersilahkan Prof. Dr. Ahmad Sulhan, M.Pd.I sebagai moderator untuk memimpin jalannya visiting lecture hingga sesi tanya jawab. Moderator juga memperkenalkan narasumber yang merupakan Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya dalam bidang ilmu sosiologi dan ilmu keislaman. Dan dikenal luas sebagai pemikir Islam moderat yang aktif dalam berbagai forum ilmiah nasional maupun internasional. Karya-karya beliau banyak membahas isu-isu tentang Islam dan sosial politik, moderasi beragama, dan transformasi masyarakat Muslim dalam konteks demokrasi modern.
Setelah dipersilahkan moderator untuk menyampaikan materi, Prof. Masdar Hilmy memberikan hormat kepada pimpinan UIN Mataram, Pascasarjana dan kepada para peserta. Sebagian dari peserta yang hadir merupakan alumni UIN Sunan Ampel Surabaya yang kini mengabdi sebagai dosen di UIN Mataram di antaranya Prof. Dr. H. Sainun, M.Ag., Dr. Hilaliati, M.Ag., Dr. H. Syukri, M.Ag., dan beberapa dosen lainnya. Karena itu, bagi Prof. Masdar Hilmy, kehadiran beliau di UIN Mataram hari ini bukanlah seperti tamu yang datang dari luar, melainkan seperti pulang ke rumah sendiri bertemu dengan keluarga akademik


Dalam visiting lecture ini, Prof. Masdar menjelaskan latar belakang pemilihan tema “Revisiting the Islam-Statet Relationship: The Role of Islamic Movements and Education on Contemporary Developments in Muslim Societies”. Beliau menegaskan bahwa tema ini penting untuk dikaji ulang karena relasi antara Islam dan negara merupakan isu klasik yang selalu aktual dalam sejarah peradaban dunia Muslim.
Menurut Prof. Masdar, dalam perjalanan sejarah umat Islam, relasi antara Islam dan negara (The Islam–State Relationship) tetap menjadi isu sentral dalam masyarakat Muslim hingga saat ini. Isu ini tidak hanya menyangkut persoalan politik dan kekuasaan, tetapi juga menyentuh aspek ideologis, sosial, dan pendidikan yang membentuk identitas umat Islam di berbagai belahan dunia.
“Pada diskursus awal, perdebatan tentang relasi Islam dan negara sering dipahami secara dikotomis, seperti antara Islam versus sekularisme atau agama versus modernitas. Pandangan ini muncul terutama pada masa kolonial dan awal kemerdekaan negara-negara Muslim, ketika modernisasi dan sekularisasi dianggap sebagai simbol kemajuan, sementara Islam dilihat sebagai sistem nilai tradisional yang perlu disesuaikan dengan tuntutan zaman. Namun, dalam perkembangan kontemporer, relasi tersebut mengalami pergeseran paradigma. Tidak lagi dipahami secara hitam-putih atau konfrontatif, melainkan melalui proses negosiasi, hibriditas (hybridity), dan keterlibatan kewargaan (civic engagement). Artinya, masyarakat Muslim kini berupaya mencari bentuk hubungan yang saling melengkapi antara nilai-nilai keislaman dan sistem kenegaraan modern — bukan lagi menempatkan keduanya dalam posisi saling bertentangan.,” ujarnya.
Lebih lanjut, Prof. Masdar menyoroti dua faktor utama yang berperan besar dalam perkembangan hubungan Islam dan negara di era kontemporer, yaitu gerakan Islam (Islamic movements) dan pendidikan Islam (Islamic education) menjadi dua kekuatan utama yang mendorong transformasi tersebut. Gerakan Islam berperan sebagai aktor sosial-politik yang memperjuangkan nilai keadilan, moralitas publik, dan keterlibatan umat dalam kehidupan kenegaraan. Pendidikan Islam, di sisi lain, menjadi wadah pembentukan kesadaran intelektual dan spiritual masyarakat Muslim agar mampu berdialog dengan modernitas tanpa kehilangan identitas keislaman.
Prof. Masdar memberikan contoh dari beberapa gerakan Islam besar di dunia yang merepresentasikan arah baru hubungan antara agama dan negara, terutama melalui peran pendidikan dan gerakan sosial keagamaam. Seperti NU dan Muhammadiyah di Indonesia melalui integrasi Pendidikan. NU dan Muhammadiyah berhasil menciptakan civic education dan civilized citizens. Keduanya tidak menempatkan agama sebagai kekuatan oposisi terhadap negara, tetapi justru berkolaborasi menjadikan nilai-nilai keislaman sebagai fondasi moral bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Contoh lainnya gerakan gülen di Turki melalui Islamisasi modernitas pendidikan dipelopori oleh Fethullah Gülen. Gerakan ini menampilkan bentuk Islamisasi modernitas, yaitu upaya mengharmonikan nilai-nilai Islam dengan sains, teknologi, dan globalisasi melalui pendidikan modern. Dan Prof. Masdar juga memberikan contoh lainnya seperti gerakan Ennahda di Tunisia.
Sedangkan kehadiran pendidikan sebagai ruang negosiasi antara Islam dan Negara, Prof. Masdar Hilmy menekankan bahwa pendidikan merupakan arena paling strategis untuk memahami dan menegosiasikan hubungan antara Islam dan negara. Terlebih dengan lahirnya UIN di Indonesia yang mengharmoniskan keduanya. Menurut Prof. Masdar, lembaga pendidikan Islam seperti madrasah, pesantren, dan perguruan tinggi Islam terutama UIN memainkan peran penting dalam menegosiasikan dua kutub besar: otoritas agama dan otoritas negara.
Sebagai materi terkahir visiting lecturenya, Prof. Masdar Hilmy membahas bagaimana hubungan antara Islam dan negara terus berkembang setelah berakhirnya rezim otoritarian di berbagai negara Muslim, termasuk Indonesia, Turki, dan Tunisia. Beliau menyebut masa ini sebagai era “negosiasi baru” (new negotiations) — di mana Islam tidak lagi berhadapan secara ideologis dengan negara, tetapi berupaya menempatkan diri sebagai mitra moral dan sosial dalam membangun tatanan masyarakat demokratis.
“Islam bukanlah kekuatan tandingan bagi negara, tetapi mitra moral yang menuntun negara menuju tata kehidupan yang adil, beradab, dan berperikemanusiaan. Pendidikan Islam dan gerakan sosial keagamaan harus menjadi motor untuk meneguhkan arah itu,” tutup Prof. Masdar.
Setelah pemaparan materi yang komprehensif dan inspiratif dari narasumber, moderator mempersilakan peserta untuk mengajukan pertanyaan dan tanggapan. Pada sesi ini berlangsung hangat, dialogis, dan bernuansa ilmiah, Prof. Masdar menanggapi setiap pertanyaan dengan argumentasi yang mendalam.
Dan tampak antusiasme luar biasa dari para peserta yang terdiri atas dosen, mahasiswa program magister dan doktor Pascasarjana UIN Mataram. Acara kemudian ditutup dengan foto bersama.


