Hari ini Kamis (16/2/2023), Pascasarjana UIN Mataram melaksanakan studium generale dalam rangka menyambut perkuliahan Semester Genap Tahun Akademik 2022-2023 dengan mendatangkan narasumber dari Kemenag RI Bapak Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Ditjen Pendis Kemenag RI Prof. Dr. H. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag. didampingi Kasubbag Tata Usaha Diktis Muhammad Aziz Hakim. Acara berlangsung di Aula Pascasarjana UIN Mataram dihadiri oleh segenap pimpinan UIN Mataram dan Civitas Akademika Pascasarjana UIN Mataram.

Hadir dari Pimpinan UIN Mataran yaitu Bapak Rektor Prof. Dr. TGH. Masnun, M.Ag., Wakil Rektor I Prof. Dr. H. Adi Fadli, M.Ag.,Wakil Rektor II PROF. DR.H. M. ZAKI. MPd., Wakil Rektor III Dr. H. Subhan Abdullah Acim, MA., serta hadir semua Bapak-Bapak Dekan di lingkungan UIN Mataram. Sedangkan dari Civitas Akademika Pascasarjana UIN Mataram hadir Direktur Pascasarjana Prof. Dr. TGH. Fahrurrozi, MA., Wakil Direktur Prof. Mohamad Abdun Nasir, M.Ag., MA., Ph.D, Bapak-Bapak Kaprodi dan Sekprodi, para guru besar, dosen, tenaga kependidikan dan sejumlah mahasiswa program magister dan doktor Pascasarjana UIN Mataram yang memadati Auditorium.

Studium generale ini bertemakan “Revitalisasi Distingsi Keilmuan Multi dan Transdisiplinari Pascasarjana UIN Mataram dalam Menghadapi Tantangan Global” diawali dengan sambutan Direktur Pascasarjana UIN Mataram Prof. Dr. TGH. Fahrurrozi, MA., beliau menyampaikan terimakasih kepada Bapak Direktur Diktis yang berkenan memenuhi undangan sebagai Narasumber untuk memberi pencerahan kepada segenap civitas akademika Pascasarjana UIN Mataram. Terlebih Pascasarjana UIN Mataram terus berbenah berharap Bapak Direktur Diktis juga terus dapat memberikan bimbingan, salah satunya melalui momen seperti stadium generale ini.
“Ini kegiatan rutin kita dan kita selalu mengangkat tema sesuai dengan isu yang ada sehingga dapat membuka wawasan dan menjadi ajang saling berbagi pastinya dalam menjawab tantangan yang ada,” jelas Prof. Fahrurrozi

Sambutan selanjutnya disampaikan Bapak Rektor UIN Mataram Prof. Dr. TGH. Masnun, M.Ag., sekaligus membuka acara studium generale. Beliau menyampaikan menyampaikan selamat datang dan rasa senang atas kedatangan Direktur Diktis Ditjen Pendis Kemenag RI sebagai narasumber untuk memberikan pencerahan akademik. Dan Pascasarjana UIN Mataram senantiasa mengahdirkan narasumber yang berkompeten dan ahli dalam bidangnya. Penguatan akademik seperti ini menjadi barometer hidupnya kampus kita.
Lanjut pak Rektor, menghidupkan alam akademik kampus menjadi visi misi UIN Mataram agar tercapainya World Class University (WCU) atau universitas kelas dunia. Sudah banyak upaya yang sudah dan akan dilakukan seperti kampus bekerjasama dengan Universiti Utara Malaysia membuka program kerjasama pendidikan double degree, kampus menerima program BIB Kemenag-LPDP, kampus mengatar beberapa dosen mendapatkan Beasiswa ke Luar Negeri, dalam waktu dekat kampus akan kedatangan dosen dari Australia dan loncatan lainnya yang kampus lakukan untuk bisa melakukan akselareasi dan menyamai kampus papan atas.
Pak Rektor berharap informasi akademik yang dilaksanakan penting diketahui oleh masyarakat yang bisa disampaikan melalui media, sehingga siapa pun bisa mengetahi UIN Mataram melalui penyebaran konten oleh dosen dan mahasiswa UIN Mataram. Civitas akademika harus berkomitmen menghadirkan media yang menyebarkan konten yang sehat dan mencerahkan.
“Kami berharap civitas akademika UIN Mataram adik-adik mahasiswa Pascasarjana untuk men-share atau meposting hal-hal positif yang mencerahkan terlebih terkait kampus kita. Lebih baik kita kreatif dalam menyebarkan konten akademik dari pada ikut berkontribusi dalam huru-hara atau main-main (di media sosial) yang dapat menutupi konten positif. Sebarlah konten yang mendidik, enlighten, empowerment, dan membangun karakter nasional. Jangan buang-buang waktu dengan hoax, fitnah, atau ujaran kebencian (hate speech), terorisme, radikalisme, dan juga bermain-main secara berlebihan,” pesan Pak Rektor.

Selanjutnya Studium general ini dipandu oleh Sekprodi S2 KPI Dr. Abdul Malik, M.Ag., M.Pd. selaku moderator. Sebagai pengantar, Dr. Malik memantik bahwa tema sangat relevan dengan kebutuhan mahasiswa dalam memahami secara mendalam tentang integrasi dan derivasinya seperti Multi dan Transdisiplinari yang disebutkan dalam tema. Dari itu diharapkan keterlibatan aktif mahasiswa nantinya dalam sesi diskusi. Untuk mengupas lebih lanjut tema yang dimaksud, sebagai moderator Dr. Malik mempersilakan narasumber Prof. Dr. H. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag. untuk memulai materi.

Prof. Inung panggilan akrab beliau memulai menyampaikan materi penuh semangat dengan memberikan pernyataan bahwa “sejarah selalu berulang”, pernyataan untuk melihat UIN secara ontologi ketika menghubungkan dinamika lahirnya UIN yang memasukkan ilmu-ilmu umum dengan dinamika lahirnya Filsafat Islam yang diambil dari Filsafat Yunani Kuno di abad Islam klasik. Yaitu munculnya berbagai macam keritik dan pertanyaan yang never ending, karenanya diskursus didalamnya akan terus berlanjut tanpa henti.
Menurut Prof. Inung, bahwa dinamika yang terjadi tidak mejadikan ikhtiar akademik berhenti. Sehingga memasuki tahun 2000-an UIN lahir sebagai bentuk transformasi lembaga dari IAIN dan STAIN yang konsen dan terbatas pada ilmu Keislaman yaitu Tarbiyah, Syariah, Adab, Dakwah dan Ushuluddin yang terbebas dari ilmu sains humaniora dan natural sains. Tiga UIN yang pertama kali lahir yaitu UIN Syarif Hidayatullah, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan UIN Maliki Malang. Masing-masing memiliki filosofis akademik (world view of academic) UIN Jakarta dengan metafora keilmuan garis edar electron, UIN Yogyakarta dengan jaring laba-laba dan UIN Malang dengan pohon ilmu. Semuanya berupaya mengintegrasikan keilmuan.


Lebih jauh Prof. Inung menjelaskan bahwa baik Al-Qur’an dan Kealaman, keduanya memiliki kedudukan yang sama sebagai ayat-ayat Allah. Begitulah makna luas yang terkandung dalam terma Iqra’ yang menjadi ayat Al-Qur’an yang pertama diturunkan. Karena Iqra’ sendiri bukan hanya bermakna membaca tulisan huruf atau angka, namun Iqra’ juga memiliki arti menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengobservasi, mengetahui ciri-cirinya, dan sebagainya.
Topik stadium generale dibahas detail oleh narasumber diselingi dengan guyonan renyah, sampai pada akhir materi, Prof. Inung, memaparkan keniscayaan integrasi keilmuan tanpa memaksakan ilmu harus terideologikan sebagaimana tidak akan berkesudahannya perdebatan antara teolog dan filsuf. Seperti perdebatan yang ciamik melibatkan beberapa tokoh besar Islam yaitu Al-Ghazali mengkritisi pemikiran para filsuf, Ibnu Sina dan Al-Farabi yang direkam dalam buku Tahafut al-Falasifah (Kerancuan Para Filsuf). Al-Ghazali mengkritik ilmu filsafat yang digagas para filusuf dianggapnya tidak sesuai dengan akidah Islam. Yang kemudian hari Al-Ghazali dikritik balik oleh Ibnu Rusyd dalam buku Tahafut al-Tahafut (Kekacauan dalam Kekacauan). Ibnu Rusyd menunjukan secara tegas bahwa al Ghazali lah yang sebenarnya dalam kekacauan pemikiran.
Setelah pemaparan materi, dilanjutkan dengan dialog bersama audien. Karena materi yang disampaikan menarik pertanyaan bukan saja dari mahasiswa juga dari dosen Pascsarjana UIN Mataram.



