Makkah : Pengabdian international Rabu, 26 Juni 2024, tim pascasarjana UIN Mataram Prof. Dr. H. Zainal Aripin Munir dosen Prodi ES Pascarjana UIN Mataram dan Dr. Fathurrahman Muhtar Dosen Magister PAI. Bertempat di hotel Castle Ajyad Makkah mendatangkan pembicara syeikh Ayub dosen madrasah as shoulatiyah Makkatul Mukarromah dan Prof. Dr. H. Fahrurrozi, MA direktur Pascasarjana UIN Mataram. Peserta terdiri atas 393 jamaah kloter 11 Embarkasi Lombok. Dalam pemaparannya Syeikh Ayyub menyampaikan sejarah tentang haji dimana pelaksanaan ibadah haji telah dilaksanakan oleh umat2 sebelum Nabi Muhammad SAW.

Sejarah Haji mencakup periode yang dimulai sejak zaman nabi Ibrahim melalui dibentuknya ritus haji oleh nabi Muhammad, hingga haji saat ini ketika jutaan umat Islam melakukan ziarah mereka setiap tahunnya. Dalam tradisi Islam, ziarah diperkenalkan di masa nabi Ibrahim. Atas perintah Allah, dia membangun Ka’bah yang menjadi tujuan ziarah. Bagi orang-orang Arab pagan di Arabia pra-Islam, Ka’bah merupakan pusat kiblat mereka. Pola haji Islam saat ini didirikan oleh Nabi Muhammad, sekitar tahun 632 M, yang melakukan reformasi terhadap ziarah pra-Islam orang-orang Arab pagan. Selama abad pertengahan, peziarah akan berkumpul di kota-kota besar seperti Basra, Damaskus, dan Kairo untuk pergi ke Mekkah dalam kelompok maupun karavan yang terdiri dari puluhan ribu peziarah. Prof. Dr. H. Fahrurrozi Direktur Pascasarjana UIN Mataram menyampaikan tentang ciri2 haji Mabrur yaitu Anjuran mengenai haji mabrur juga sempat dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW dalam Hadits Bukhari, yaitu “Tiada balasan bagi haji mabrur selain surga”. Dalam hadist lainnya, menyebutkan “Jihad yang paling utama bagi kalian (kaum perempuan) adalah haji mabrur.” Maka dari itu, wajar bagi setiap muslim mengharapkan haji mabrur.
Menurut para ulama, ciri utama haji mabrur adalah perubahan perilaku menjadi lebih taat kepada Allah SWT setelah melaksanakan ibadah haji. Beberapa ciri yang terlihat, di antaranya: Lisannya semakin terjaga. Senang mempererat silaturahim dan menuntut ilmu agama.
Gemar shalat berjamaah dan bersedekah.
Hatinya khusyuk karena selalu mengingat Allah, menyadari bahwa ia selalu dalam pengawasan-Nya.