(Catatan dari kegiatan Writing and Publication Center, Guest Lecture Pascasarjana UIN Mataram).

Oleh: Abdul Manan Marda’ [Mahasiswa Program Magister PBA UIN Mataram]

Sore itu di kampus Pascasarjana, terlihat geliat aktivitas perkuliahan yang hidup dan antusias, terutama di lantai 2 auditorium Pasca sedang berlangsung kuliah umum. Mahasiswa S2 dan S3 dipersilahkan mengikuti agenda acara.

Dari tepuk tangan yang semarak menjadi potret betapa menariknya majlis belajar yang dilabel “Guest Lecture” atau perkulihan menghadirkan dosen tamu luar negeri. Seorang pakar research dari Australia diminta bicara tentang “How to compose excellent Research Proposal”.

MasyaAllah ilmunya Allah luas sekali bilamana menyimak para pakar berbicara. Ada kenikmatan tak ternilai harganya bila diangerahi Allah cinta dan gemar belajar. Ini harus kita pupuk, harus kita upgrade terus menerus semangat belajar itu, jangan pernah sampai pudar.

Peserta yang memenuhi ruangan dalam agenda “Guest Lecture” ini terpana dan khidmat mengikuti rangkaian acara demi acara. Dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya untuk terus meninstall rasa patriotisme kebangsaan kita, minimal lewat meresapi karya fenomenal Wr. Supratman itu.

Pesan-pesan membangun sangat kental mendoktrin jiwa-jiwa anak bangsa dalam kalimat “Bangunlah Jiwanya Bangunlah Badannya Untik Indonesia Raya.” Kalimat ini menjadi semacam cambuk, agar tak ada waktu buat kita bermalas-malasan. Tidak punya kesempatan untuk melakukan hal-hal yang sia-sia, apalagi merugikan.

MC paling berkuasa, tak ada satupun yang menolak diperintah oleh MC, bahkan tak satupun dari yang menerima komando bilang kok kamu nyuruh-nyuruh? Tidak ada. Hehe.. Termasuk yang pertama dikomando oleh MC adalah Direktur Pascasarjana UIN Mataram Al-Mukarram Prof. Dr. TGH. Fahrurrozi Dahlan, QH. MA untuk menyampaikan sambutan.

Tokoh cendikiawan dan agamawan ini tampil mengenakan batik. Sudah menjadi gaya dan talenta beliau sebagai ahli komunikasi memberi selalu ada motivasi, inspirasi juga kelakar segar pengusir ngantuk. Ini berarti ilmu komunikasi yang atraktif yang terkait public speaking.

Motivasi yang terus beliau kampanyekan agar mahasiswa berupaya hadir di setiap kajian-kajian ilmiah seperti ini. Diminta rajin ke kampus, jangan banyak di rumah. Sehingga keluar kaidah berbahasa Arab dari beliau Man Zaarol Jaami’ah Naalal Faaizah. Siapa saja rajin ke kampus akan sukses.

Berijtimak, bermajlis, berkumpul, bertatap muka, berhalaqoh atau apalah namanya dalam rangka mengembangkan dan mendalami ilmu pengetahuan adalah tradisi para ulama, para pembelajar, pecinta ilmu, penggemar muzakarah, perindu dan penyayang ulama.

Ulama dan para cendikiawan pasti lahir dari majlis ilmu, lahir dari godokan dan tempaan keras lingkungan pendidikan dan pengajian. Kalau akademik tentu forum-forum ilmiah dan seminar-seminar research dan keilmuan. Sudah menjadi makanan sehari-hari seorang pembelajar adalah bermajlis, berseminar, berkuliah umum, berdiskusi, belajar banyak, banyak membaca, menulis, mengkaji dan meneliti.

Maka hadirnya forum ilmiah hari ini dalam rangka mengasah kemampuan menulis proposal, sangat tepat dengan kebutuhan mahasiswa semester dua seperti saya, yang akan menulis proposal thesis. Ternyata menulis adalah ilmu yang sangat penting dimiliki, bukan sekedar menukis huruf-huruf saat kita belajar nulis dasar, tapi menulis menumpahkan ide, gagasan, hasil penelitian dan tentu berbagi ilmu pengetahuan.

Saya tertarik hadir, selain karena pembicaranya pakar dari luar negeri, juga ini tentang writing and publication. Bagaimana menulis dan mempublikasikan karya tulis. Secara khusus berkaitan dengan penulisan proposal. Lalu proposal yang ditulis menjadi salah satu mata kuliah yang harus ditempuh di pascasarjana.

Usai Pak Direktur menyampaikan sambutan yang singkat dan memikat, dilanjutkan lagi dengan sambutan dari Rektor UIN Mataram almukarram Bpk Prof. Dr. TGH. Masnun Thahir, MA yang menyebut bahwa memang Pak Direktur Pascasarjana tidak pernah kehilangan akal bagaimana meningkatkan SDM kampus menjadi lebih baik. Yaitu dengan menghadirkan dosen-dosen tamu yang luar biasa.

Tokoh yang telah didaulat menjadi ketua PWNU NTB pada konferensi Wilayah tahun 2019 ini punya track record karir yang cukup meroket, ditambah dengan pada 28 Juli 2021 ini beliau resmi menjabat sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Mataram.

Pada kesempatan sambutannya dihadapan peserta Writing and Publication Center, beliau mengapresiasi kegiatan ini, karena bukan hanya sebagai kebutuhan akademik, tapi juga untuk penelitian yang lebih umum. Lewat acara ini kita akan peroleh pengayaan, karena memang kata beliau bahwa atau ruh dari perguruan tinggi itu sendir adalah penelitian.

Beliau menyebut salah satu cara mewujudkan apa yang disebut dengan hifzul ‘aql adalah penelitian. Research yang baik tentu akan memberikan manfaat untuk kemanusiaan. Menjadi referensi atau rujukan bagi generasi berikutnya yang tentunya sangat berarti bagi langkah-langkah maju berikutnya.

Saat acara inti, yaitu penyampaian materi oleh Guest Speaker kita Assoc. Prof. Dr. James Bennett, para hadirin cukup terhipnotis dengan penuh perhatian menyimak kata demi kata dari pakar seni dan budaya ini. Selain oleh karena logat bule-nya yang kental, maka kedengaran bahasa Indonesianya sedikit menggelitik dan lucu.

Bayangkan, beliau pertamakali ke Indonesia pada tahun 1979, saat melakukan penelitian untuk pendidikan magisternya, dengan penelitian di bidang Seni dan Budaya di Indonesia. Sehingga tidak heran bahasa Indonesianya sudah lancar sekali. Dan kini sebagai tokoh akademisi, dalam usia 70 tahun ini masih enerjik berbagi ilmu dan pengalaman.

Menyimak kajian materi penelitian bule pakar dari Australia ini, cukup mendalam sekali membongkar nilai-nilai keislaman, terkait akulturasi budaya Islam dengan Hindu-Budha. yang bersumber dari data berupa peninggalan batu-batu bertulis, ukiran dan prasasti yang ditemukan.

MasyaAllah…. kesimpulan saya, bahwa memang orang-orang luar negeri ini kalau sudah konsentrasi terhadap satu bidang, sampai tuntas dan mendalam. Patut kita acungi jempol dan tentu mengikuti bagaimana semangat kegigihannya menekuni ilmu pengetahuan.

Maka tak ada yang tak mungkin didunia ini bagi yang mau berusaha dan berupaya untuk belajar, pasti Allah bukakan pintu kefahaman, asal kita berniat dan berhajat untuk terus belajar. Keyakinan kita, sesuatu yang diperintahkan Allah untuk melakukannya, pasti kita disiapkan potensi untuk menguasainya.

Kalau ilmu tentang dunia saja yang bermanfaat hanya semasa manusia tinggal di dunia, bagaimana dengan ilmu untuk akhirat kita? Nah.. inilah sisi yang harus lebih kita berikan atensi dan pemikiran, agar kita semakin termotivasi ibadah, terdorong untuk banyak menggali ilmu yang akan mengantarkan kita pada kesuksesan akhirat.

Gairah dan semangat belajar harus terus dikobarkan. Agar makin banyak amal jariah kita, salah satu caranya dengan belajar nulis. Nulis yang bermanfaat, nulis yang membangun semangat untuk menjadi insan dan hamba Allah yang lebih baik.

Ketika saya menengok kiri dan kanan pada acara Writing and Publication Center, Guest Lecture ini, ruangan banyak didominasi oleh para guru besar dan para doktor, selain itu mahasiswa S3 dan S2, subhanalloh.. mereka yang sudah tinggi-tinggi status pendidikannya pun tak pernah berhenti belajar, mereka tak pernah merasa puas belajar.

Teringat nasihat bijak dalam sebuah hadits bahwa ada beberapa hal yang memang tak pernah puas, Baginda Nabi shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ثَمَانِيَةُ أَشْيَاءَ لَا تَشْبَعُ مِنْ ثَمَانِيَةٍ: اَلْعَيْنُ مِنَ النَّظْرِ ، وَالْاَرْضُ مِنَ الْمَطَرِ ، وَالْأُنْثَى مِنَ الذَّكَرِ ، وَالْعَالِمُ مِنَ الْعِلْمِ ، وَالسَّائِلُ مِنَ الْمَسْئَلَةِ ، وَالْحِرْصُ مِنَ الْجَمْعِ ، وَالْبَحْرُ مِنَ الْمَاءِ ، وَالنَّارُ مِنَ الْحَطَبِ

“Delapan perkara yang tak pernah merasa puas dengan delapan perkara. Mata tak pernah puas dari memandang, bumi dari siraman hujan, wanita dari laki-laki, seorang alim dari ilmu, orang yang suka bertanya dari masalah, orang yang tamak dari menghimpun harta, lautan dari air, dan api dari kayu bakar,” (al-Hadits)

(Rabu 11 Dzulqoidah 1444 H/ 31 Mei 2023 M)