Mantan Ketua MUI Pusat dan Ketua Umum PP Muhammadiyah 2005~2015 yang juga Utusan Khusus Presiden di era Jokowi untuk Dialog dan Kerja Sama Antar Agama dan Peradaban, Prof. Dr. KH. M. Din Syamsuddin, M.A. memberikan Kuliah Umum di Pascasarjana UIN Mataram bertempat di Auditorium Kampus II UIN Mataram, Kamis (30/10/2025).

Kegiatan ini diikuti ratusan peserta dan dihadiri juga oleh pimpinan UIN Mataran yaitu Bapak Wakil Rektor I Prof. Dr. H. Adi Fadli, M.Ag., Ketua Senat UIN Mataram Dr. H.MS. Udin, M. Ag., Direktur Pascasarjana Prof. Dr. H. Subhan Abdullah Acim, MA., Wakil Direktur Prof. Dr. H. Saparudin, M.Ag., Bapak Ibu Kaprodi dan Sekprodi, para guru besar, dosen dan mahasiswa program magister dan doktor Pascasarjana UIN Mataram. Termasuk hadir juga wakil walikota Mataram TGH. Mujiburrahman, M.Pd. sebagai mahasiswa S3 Studi Islam juga sebagai Ketua Umum Ikatan alumni Pascasarjana (Ikapsa).

Acara dimulai dengan sambutan yang disampaikan oleh Direktur Pascasarjana Prof. Dr. H. Subhan Abdullah Acim, MA., beliau mengucapkan jazakumullah atas rasa syukur berkenannya Prof. Din Syamsuddin menjadi narasumber dalam studium general pascasarjana, ini kali pertamanya beliau dapat hadir di tengah mahasiswa pascasarjana untuk nantinya dapat menikmati ilmu dan adab dari beliau.

“Prof. Din Syamsuddin putra asli NTB yang memiliki pengaruh di dunia Islam, tentunya tidak terbatas hanya menguasai teori namun beliau juga memperaktikkannya, dunia Islam mengakui beliau sebagai tokoh internasional terutama dalam memperjuangkan peradaban Islam alternatif untuk dunia. Sehingga ini menjadi istimewa bagi kita bagai yang hadir dapat mengikuti gerbong pemikiran beliau secara langsung”, jelas Pak Direktur.

Selanjutnya sambutan sekaligus membuka acara oleh Rektor UIN Mataram yang diwakilkan oleh Wakil Rektor I Prof. Dr. H. Adi Fadli, M.Ag. Dalam sambutannya WR I menyampaikan ucapan selamat datang dan terimakasih kepada narasumber, “Selamat datang kepada guru kita Prof. Dr. KH. M. Din Syamsuddin, M.A. yang telah berkenan hadir ditengah kita. Ilmu yang akan beliau sampaikan merupakan materi yang amat besar yaitu melihat dunia Islam dan masa depan peradaban”.

Menurut Wakil Rektor I bahwa realitas hidup dalam melihat dunia hari ini mestilah dengan pandangan yang luas dan fokus apalagi dalam melihat kedepan, sedangkan melihat ke belakang hanya sesekali. Sebagaimana dalam mengendarai mobil kaca depan mobil lebih luas dari kaca sepion. Atinya kita mestinya fokus melihat secara luas ke depan dan sesekali saja menengok ke belakang.

Setelah Acara sambutan dari Wakil Rektor 1, dan membuka acara stadium General, kemudian Pembacaan Doa oleh wakil walikota Mataram TGH. Mujiburrahman, M.Pd.

Selanjutnya Wakil Direktur Prof. Dr. H. Saparudin, M.Ag. yang sebagai moderator setalah memperkenalkan pembicara menyampaikan bahwa momentum ini menyambung genealogi keilmuan karena narasumber kita tokoh muslim di dunia sebagai Ketua Umum Poros Dunia Wasathiyah Islam (Chairman of Global Fulcrum of Wasatiyat Islam) yang banyak bersentuhan dan terlibat langsung dengan forum-forum internasional sebagaimana yang terlihat dari CV beliau yang sangat panjang.

Berikutnya Prof. Dr. KH. M. Din Syamsuddin, M.A. sebagai pembicara merasa bersyukur dan berbahagia dapat berbagi di studium general ini. Beliau merasa kehadirannya bukan sebagai tamu karena sejak lama mengikuti perkembangan UIN Mataram mulai dari statusnya sebagai IAIN cabang Surabaya. Dan sampai sekarang mengikuti perkembangan UIN Mataram termasuk dalam penetapan kembali Rektor UIN Mataram untuk priode kedua. Karena Menteri Agama sempat menyampaikan bahwa Rektor yang berprestasi akan kembali terpilih menjadi rektor seperti Rektor UIN Mataram Prof. Dr. H. Masnun, M.Ag. Sehingga niat dan motivasi kehadiran Prof. Din Syamsuddin selain untuk datang bershilaturrahim juga menyampaikan selamat kepada Rektor UIN Mataram atas dilantiknya kembali.

Mengawali materi kuliahnya, Prof. Din Syamsuddin menyampaikan berbagai pandangan para pakar terhadap kondisi dunia hari ini ada yang menyebutnya sebagai the world clash of civilizations, anthropocene / krisis ekologis, disruption era, neoliberalisme, genosida dan pandangan lainnya, inti pandangan meraka bahwa kondisi dunia hari ini mengalami fasād al-‘ālam al-mutarāqim kerusakan dunia yang bertumpuk-tumpuk, humanis sekularisme dan libralisme menjadi watak dunia. Dalam kondisi ini dunia juga sedang mengalami pergeseran besar dari Eropa ke Asia.

“Peradaban dunia kini sedang bergerak dari hegemoni Barat menuju orientasi baru di kawasan Asia-Pasifik menandai lahirnya Abad Asia atau Asia Renaissance, di mana spiritualitas Timur, etika komunitarian akan menjadi wajah baru peradaban global.” Jelas Prof. Din Syamsudin.

Kerusakan dunia yang akumulatif dan melihat Asia akan menjadi pusat peradaban dunia, maka inilah peluang menjadikan peradaban Islam sebagai alternatif untuk dunia yang disebut sebagai al-badīl ats-tsaqāfī atau al-badīl al-hadhari yaitu peradaban alternatif, itulah peradaban Islam. Disamping Islam semakin berkemnag di di dunia Barat dan Muslim sebagai masyarkat terbesar kedua di dunia, juga Islam memiliki potensi (dari dalam Islam itu sendiri) yang tidak dimiliki oleh agama lainnya.

Menurut Prof. Din Syamsudin ada empat potensi Islam yaitu human resources, natural resources, value resources, dan history resources (SDM, SDA, Nilai dan Sejarah). Dalam konteks human resources jumlah ummat Islam hari ini 1,8 miliyar atau 24% dari jumlah penduduk dunia dan diprediksi akan mencapai 30% pada tahun 2050 akan menjadi agama terbesar di dunia. Dan konteknya dengan natural resources bahwa negara Muslim memiliki kekayan alam yang luar biasa baik di dalam perut bumi, laut dan diatas buminya. Adapaun value resources bahwa Islam memiliki nilai-nilai spiritual, moral, dan etika yang menjadi dasar tatanan sosial, ilmu, sains dan teknologi. Sedangkan history resources bahwa Islam memiliki warisan sejarah yang menjadi cermin peradaban “masa keemasan Islam” seperti era Madinah (ummah dan madaniah), era ummayyah dan Abbasyiah yang menjadi epicintrum peradaban dunia di masa itu.

Permasalahannya Islam hari ini masih pasif tidak responsif. Potensial tersebut tidak teraktual. Inilah yang menyebakan Islam sulit tampil sebagai al-badīl ats-tsaqāfī (alternatif peradaban) bagi dunia hari ini. Di tambah lagi di dalam Islam masih kuat sektarianisme, saling provokasi dan sulit bersatu. Menag dalam jumlah tapi kalah kalah dalam kualitas pemikiran.

Kendati demikian menurut Prof. Din Syamsuddin, kita harus tetap berjuang menjadikan Islam sebagai al-badīl ats-tsaqāfī (alternatif peradaban), memperkuat ukhuwah, menhargai waktu, merevitalisasi pendidikan Islam berbasis integrasi, memperbanyak saintis Muslim, memperbanyak ruang-ruang diskusi, meperkuat nilai-nilai washatiyah di tengah ummat. Dan UIN Mataram menjadi kampus yang strategis dalam upaya al-badīl ats-tsaqāfī tersebut.

Setelah pemaparan materi selesai, Wakil Direktur Prof. Dr. H. Saparudin, M.Ag. sebagai moderator memberikan kesempatan kepada para hadirin dan mahasiswa pascasarjana untuk bertanya dan mendiskusikan berbagai aspek terkait Dunia Islam dan Masa Depan Peradaban yang telah dijelaskan. Baik dosen dan mahasiswa antusias memberikan pertanyaan. Setelah itu dilanjutkan dengan sesi foto bersama yang menandakan berakhirnya studi general.