Lombok secara khusus dan NTB secara umum memiliki keunikan dan kekhasan sehingga menarik peneliti asing untuk datang mengeksplorasi. Salah satu fenomena sosial-keagamaan yang menarik adalah tentang relasi antara hukum negara, hukum adat dan hukum agama dalam ranah hukum keluarga. Isu ini menjadi perhatian peneliti dari Waseda University Prof. Ken Miichi dan Prof. Yuka Kayane dari University of Tsukuba, Jepang.

Dia tertarik mengamati bagaimana perubahan ketentuan batas usia pernikahan mendapat respon luas dari masyarakat dan bagaimana perubahan itu dipraktikan dalam keseharian. Pernikahan anak atau pernikahan dini merupakan satu isu besar di Indonesia yang berdampak pada pelaksanaan reformasi hukum keluarga Islam, seperti batas usia minimal pernikahan. Sarjana Jepang lain yang fokus pada hukum Islam Indonesia adalah Dr. Hisako Nakamura, yang menulis artikel tentang ta’lik talak, sementara suaminya Prof. Mitsuo Nakamura menulis buku “Bulan Sabit Terbit di Atas Pohon Beringin”.
Sebelumnya, Prof. Miichi memfokuskan risetnya pada gerakan politik Islam organisasi atau komunitas Islam Indonesia, sementara Prof. Kayane sedang menyelesaikan manuskrip tentang gerakan dan idiologi politik Islam modern, Masyumi. Secara umum, dibanding dengan peneliti asal Eropa, Amerika maupun Australia, peneliti Jepang tentang Islam Indonesia lebih sedikit. Meskipun demikian para pengkaji Islam dari Jepang turut andil dalam memperkaya studi Islam secara umum dan memperkenalkan Islam Indonesia ke wacana akademik global.
Dalam pemaparannya tentang topik dan pengalaman riset keislaman di Indonesia di hadapan mahasiswa program doktor (S3) Pendidikan Agama Islam (PAI) Pascasarjana UIN Mataram, Senin 6 Maret 2023, Prof. Miichi menceritakan bahwa dia sudah mulai mengunjungi Indonesia untuk riset sejak 20 tahun yang lalu, bahkan sejak reformasi 1998. Dinamika politik dan gerakan Islam di Indonesia sangat baik sebagai bahan perbandingan dengan gerakan Islam di dunia Islam maupun gerakan dan persinggungan agama dan politik secara umum.
Menurutnya studi Islam juga ada di universitas-universitas Islam di bawah kajian wilayah (area studies), seperti Timur Tengah, sementara untuk Islam di wilayah Asia, termasuk Indonesia, maka kajiannya diadakan di bawah program Studi Asia atau Asia Tenggara dengan berbagai fokus yang beragam. Lebih lanjut Prof. Miichi mengatakan bahwa di Jepang banyak warga negara Indonesia baik sebagai mahasiswa maupun sebagai pekerja migran. Islam di Jepang banyak diwarnai oleh orang-orang Indonesia tersebut, disamping komunitas Muslim dari negara-negara Islam lainnya, seperti Pakistan.
Saat ditanya mengapa tertarik mengkaji Islam Indonesia, baik Prof. Miichi maupun Prof. Kayane menjelaskan bahwa hanya sedikit orang Jepang yang tahu tentang Indonesia apalagi Islam Indonesia. Oleh karena itu, hasil kajiannya menyumbang informasi dan pengetahuan yang penting tentang Islam Indonesia bagi warga Jepang. Prof. Miichi juga menegaskan bahwa pada mulanya dia tidak ada target mengkaji gerakan politik dan idiologi Keislaman di Indonesia, akan tetapi aspek itu tidak bisa dilepaskan ketika mempelajari Indonesia, sebagai fokus utama pada awal penelitiannya.
Dua professor Jepang tersebut didampingi oleh dosen Pascasarjana dan guru besar UIN Mataram Prof. Hj. Atun Wardatun, M.A., Ph.D, Prof. Dr. H. Abdul Wahid, M.Pd., serta Direktur Pascasarjana Prof. Dr. H. Fahrurrozi, M.A., dan Wakil Direktur Prof. Mohamad Abdun Nasir, M.A., Ph.D. dan beberapa dosen Pascasarjana lainnya.

Pascasarjana UIN Mataram berkomitmen untuk terus melakukan dialog interaktif akademik dan lecturer exchange maupun program guest lecturer dengan mendatangkan dosen dan penelitian luar negeri untuk menambah wawasan, berdiskusi dan berkolaborasi dalam pendidikan dan penelitian, seperti yang sebelumnya dengan dosen dari Universitas Pendidikan Sultan Idris Syah Malaysia dan dari Jerman.


