Para ulama ahli fikih dari berbagi negara menghadiri Muktamar Internasional Fikih Peradaban 1 atau al-mu’tamar ad-daulī li-fiqhi al-hadhārah (International Fiqh of Civilization) di Hotel Shangri-la Kota Surabaya, Jawa Timur, 6 Februari 2023 M /15 Rajab 1444 H.

Dosen Pascasarjana UIN Mataram hadir menjadi delegasi, seperti Rektor UIN Mataram Prof. Dr. TGH. Masnun Tahir, M.Ag. dosen hombase S2 Hukum Keluarga Islam (HKI), Wakil Rektor 1 Prof. Dr, H. Adi Fadli, M.Ag. dosen hombase S2 Pendidikan Bahasa Arab (PBA), Direktur Pascasarjana Prof. Dr. TGH. Fahrurrozi, M.A dosen hombase S2 Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) dan beberapa dosen Pascasarjana UIN Mataram hadir dalam event internasional tersebut.
Kehadiran mereka aktif memberikan kontribusi pemikiran dalam memperkuat fikih peradaban. Sesuai dengan tema kegiatan “Penilaian Fikih atas Legitimasi Piagam Perserikatan Bangsa-bangsa sebagai Landasan Tata Dunia: Membangun Landasan Fikih untuk Perdamaian dan Harmoni Global”, ini merupakan rangkaian Peringatan Satu Abad Nahdlatul Ulama. Sebagai bentuk konsolidasi ulama fikih dunia agar dapat melahirkan solusi bagi perdamaian dunia.
Sehingga tujuan dari muktamar tersebut ialah untuk menginisiasi diskursus wacana tentang peradaban seperti apa yang hendak kita inginkan bagi masa depan umat manusia, terutama di tengah arus wacana toleransi dan moderasi beragama.

Direktur Pascasarjana UIN Mataram disela mengikuti kegiatan, Senin (6/02/2023) menyampaikan, sangat mengapresiasi kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang telah menyelenggarakan event internasional ini dengan menghadirkan seluruh ahli, pakar Ilmu Fikih dari dalam negeri maupun mancanegara sebagai pembicara kunci.
Acara dibuka secara resmi oleh Wakil Presiden RI K.H Ma’ruf Amin. Wapres juga memberikan keynote speech menjelaskan konstekstualisasi pandangan keagamaan dengan realitas peradaban modern. Bahwa ajaran islam ada yang di kategori tsawabit yaitu bersifat tetap dan tidak berubah, serta ada pula yang di kategori mutaghayyirat yaitu memungkinkan untuk berubah sesuai dengan perkembangan zaman.
Lebih jauh, Wapres mengungkapkan bahwa umat Islam pernah menorehkan tinta emas dalam membangun peradaban. Namun, hal itu kemudian mengalami era kemunduran. Sebab, saat ini dunia sudah masuk pada babak baru peradaban, yang merupakan dampak dari globalisasi. Ketentuan dalam fikih yang merupakan respons terhadap peradaban sebelumnya, mungkin tidak cocok lagi untuk merespons peradaban saat ini, sehingga dibutuhkan konstruksi fikih baru yang lebih sesuai dengan peradaban saat ini.

Selanjutnya dalam muktamar ini diselenggarakan Sidang Pleno I dan II yang diisi dengan para pembicara dari Indonesia dan negara-negara lain, diantaranya Rais Áam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, K.H. Miftachul Akhyar, Wakil Imam Akbar Al Azhar, Muhammad al-Dhuwaini, Sekretaris Jenderal Liga Muslim Dunia, Syeikh Dr. Muhammad Bin Abdul Karim Al Issa, Syaikh Abdullah Bin Mahfudh Ibn Bayyah, Sayyid Ahmad Bin Muhammad Bin Alawi al-Maliki al-Makki, Wakil Rais Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, K.H. Afifuddin Muhajir, Al Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman Al Jufri, Prof. Dr. K.H. Quraish Shihab, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, K.H. Yahya Cholil Staquf, Dr. Syauqi Ibrahim Allam, Prof. Koutoub Moustapha Kano, Prof. Koutoub Moustapha Kano, Shaikh Dr. Ali Jum’ah, dan lainnya.

Mereka mengulas berbagai persoalan kontemporer dari sudut pandang Islam, mulai dari format negara-bangsa, relasi dengan non-muslim, hingga tata politik global. Salah satunya pembahasan tentang posisi Piagam PBB di mata syariat Islam.
Diakhir acara Direktur Pascasarjana UIN Mataram menyampaikan adanya pesan peradaban dari pertemuan internasional tersebut bahwa membangunan peradaban dengan 4 pondasi utama yaitu manusia dan kemanusian, ilmu pengetahuan, kesejahteraan dan pemerataan, dan kecintaan terhadap tanah air.
