Hadir sebagai Keynote Speaker:
Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila [BPIP].
[Prof. KH. Yudian Wahyudi. MA. Ph.D].
Rektor UIN Mataram. [Prof. Dr. TGH. Masnun Tahir . MAg].
Nara Sumber Bedah Buku:
Syaiful Arif. MH [Penulis Buku].
Prof. Dr. H. Mutawali . MAg.
Prof. Hj. Atun Wardatun . MA. Ph. D
Dr. H. Subhan Abdullah Acim. MA.

Prof. Yudian memaparkan tenteng Indonesia dan Pancasila.
Beliau menegaskan Indonesia adalah negara yang paling istimewa yang dihadiahkan oleh Allah di muka bumi ini. Karena Indonesia itu hadir sebagai Negara:
Religius
Republikan
Konstitusional
Egalitarian.
Keempat ini yang memberikan kebahagian dan kebebasan berpikir, berkreasi, berdedikasi untuk kemajuan agama, nusa dan bangsa.

Prof. Yudian memberikan ilustrasi tentang kebangsaan Indonesia, dengan meminjam konstruksi nama-nama para nabi dan rasul yang konstrukrif-fungsionalistik.
Nabi Adam- simbol kemanusiaan majmuk yang menjadi geneologi dan asal usul kemanusian. Adam sebagai simbol keilmuan [al-asma’] yang karenanya para malaikat tunduk patuh karena keilmuan yang dimilikinya. Nabi Nuh: Pencipta kapal laut terbesar sepanjang sejarah kemanusiaan. Bahari terluas dimiliki Indonesia menjadi penanda Nabi Nuh As melintas batas bahari untuk menyatukan NKRI yang sangat dinamis dan egalitarian.
Nabi Ibrahim sang diplomat ulung internasional yang menghadirkan peradaban kemanusiaan dan menghadirkan kesejahteraan global dengan menjamin diplomasi yang ulung. Indonesia hadir mewujudkan kesejahteraan yang sangat luas [وارزق اهله من الثمرات]
Makkah Madinah Palestina adalah bukti kongkrit peradaban kemanusiaan. Indonesia adalah negara yang menghadirkan kedamaian dan keberkahan untuk semua golongan, dan ummat.
Nabi Ibrahim mengajarkan kita sikap diplomatik atas segala dimensi keberagamaan dan dari geneologi Nabi Ibrahim lahir para pemikir peradaban kenabian dan kerasulan. Tanah Padang Pasir tentu tak cocok untuk semua buah justru Indonesia cocok untuk semua jenis buah. Nabi Ibrahim mampu menghadirkan tsamarat itu dalam bingkai peradaban yang saling menghormati dan saling menegasi.
Kisah Nabi Musa memberikan pembelajaran bagaimana melawan orogansi kekuasaan bahkan mendeskriditikan sikap kemanusiaan. Nabi Musa hadir untuk membongkar kebobrokan kepemimpinan yang melanggar demokrasi dan humanisasi.
Buah Qisa’, Bashal, adas, yang sedang berkembang saat Firaun memimpin negara, menjadi simbol perlawanan terhadap kebijakan negara dalam aspek kesejahteraan yang tidak pro rakyat.
Untuk konteks Indonesia yang diberikan anugerah yang paling istimewa yang mengkaper semua elemen kemanusian yang dilandasi semangat egalitarian dan konstitusional.
Nabi Isa menghadirkan ma’idah [مائدة] sebagai hidangan kemanusiaan yang lahir dari doa kemanusiaan.

Indonesia dengan konsensus Darul Mitsaq- Darul Ahli wal ahdi, Darul aman menjadi Darul Ijma’ [دار الاجماع] konsensus kolektif dan kontributif adaptif untuk rasa aman beragama, berbangsa dan bernegara. [Prof Yudian Wahyudi dalam statement kebangsaan dan kepancasilaan].


Auditorium UIN Mataram, 7 Rajab 1444 H. / 28 Februari 2023_

Fahrurrozi Abu Raziqi . fahrurrozi@uinmataram.ac.id-fahrurrozi dahlan channel].

Selasa, 28 Februari 2023