SUMBAWA BESAR – Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram terus menunjukkan komitmennya dalam mentransformasi kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Nusa Tenggara Barat. Melalui kunjungan dalam Sosialisasi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Tahun Akademik 2026/2027, tim delegasi kali ini menyambangi Pulau Sumbawa untuk menyambut para calon intelektual muslim yang ingin melangkah ke jenjang pendidikan lebih tinggi.

Kegiatan sosialisasi dihari kedua yang berlangsung pada tanggal 7 Mei 2026, bertempat di Aula Kantor Kemenag Kabupaten Sumbawa Besar, suasana tampak begitu antusias. Kehadiran tim yang dipimpin langsung oleh Direktur Pascasarjana UIN Mataram, Prof. Subhan Abdullah Acim, MA, memberikan sinyal kuat bahwa UIN Mataram memandang serius pengembangan potensi akademik masyarakat di tanah Samawa.

Dalam berbagai hal yang memotivasi, Prof. Subhan Abdullah Acim menekankan bahwa pendidikan tinggi kini bukan lagi hambatan bagi praktisi yang sibuk. “Kami hadir membawa solusi nyata bagi para guru, dosen, dan praktisi di Sumbawa. Pascasarjana UIN Mataram telah bertransformasi dengan skema perkuliahan yang adaptif. Melalui sistem offline, dan hybrid learning, kami memastikan mahasiswa tetap bisa menyelesaikan tanpa harus menganggu tanggung jawab profesionalnya di daerah asal,” tegas Prof. Subhan dengan penuh optimisme.

Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Sumbawa, Bapak Faisal, S.Ag, M.M. Inov., menyambut hangat inisiatif ini. Di hadapan sekitar 60-an peserta yang terdiri dari para Kepala Seksi, Kepala KUA, dan Kepala Madrasah, ia mengajak jajarannya untuk tidak berhenti belajar. Saya sangat mendukung penuh langkah ini agar para tenaga kependidikan dan penyuluh di bawah Kemenag Kabupaten Sumbawa memiliki kompetensi yang linier dengan tantangan zaman melalui uprage kemampuan diri melalui jalur pendidikan di UIN Mataram,” ungkap Bapak Faisal.

Kehadiran pimpinan akademik UIN Mataram dalam kegiatan ini menambah bobot diskusi. Tampak hadir mendampingi Direktur antara lain Prof. Muhammad Sa’i, MA (Sekretaris Kopertais XIV), Dr. Muammar (Kaprodi S2 MPI), Dr. Ihsan Hamid (Kaprodi S2 KPI), serta Dr. Dedy Ramdani (Sekprodi S2 PAI). Mereka hadir untuk memberikan penjelasan detail mengenai keunggulan 11 program studi yang dikelola.

Pascasarjana UIN Mataram saat ini menawarkan spektrum keilmuan yang luas, mulai dari Program Magister (S2) PAI, PBA, Hukum Keluarga Islam (HKI), MPI, Ekonomi Syariah (ESY), KPI, Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT), hingga Pendidikan Matematika. Tak hanya itu, bagi mereka yang ingin mencapai puncak akademik, tersedia Program Doktor (S3) Pendidikan Agama Islam, Hukum Keluarga Islam, dan Studi Islam yang telah terakreditasi dengan baik.

Salah satu daya tarik utama yang menjadi primadona dalam sosialisasi ini adalah program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Inovasi ini memberikan karpet merah bagi mereka yang memiliki pengalaman kerja atau studi yang sempat terhenti. Program RPL ini menjadi bukti bahwa UIN Mataram menghargai setiap rekam jejak intelektual dan profesional calon mahasiswanya.

Program RPL tersebut terbagi dalam dua skema: Tipe A bagi mahasiswa yang ingin mentransfer kredit SKS dari kampus sebelumnya (seperti akibat putus studi/DO), serta Tipe B yang memungkinkan perolehan kredit melalui pengakuan atas pengalaman kerja selama bertahun-tahun. Inisiatif ini dinilai sangat memudahkan para birokrat dan praktisi di Sumbawa untuk meraih gelar akademis lebih cepat namun tetap berkualitas.

Acara yang berlangsung hangat tersebut juga diwarnai dengan sesi diskusi interaktif, pembagian brosur PMB, dan ramah tamah yang mempererat silaturahmi antarlembaga. Sesi dokumentasi bersama di akhir acara menjadi simbol sinergi yang kuat antara dunia akademik dan praktisi keagamaan dalam membangun jejaring intelektual yang kokoh di Pulau Sumbawa.

Melalui agenda strategi ini, Pascasarjana UIN Mataram kembali menegaskan jati dirinya sebagai pusat keunggulan pendidikan Islam di Indonesia Timur. Dengan mendorong beragama moderat dan transformasi SDM berbasis teknologi, UIN Mataram siap mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan di masyarakat.