Pascasarjana dengan koordinasi bersama Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram menggelar Pelatihan “Literasi Digital dalam Penulisan Karya Tulis Ilmiah bagi Penghulu KUA se-Kabupaten Lombok Tengah dan Lombok Utara” pada Senin, 17 November 2025, di Ruang Pejanggik, Hotel Lombok Raya.
Hadir dalam acara tim pengabdi Dr. Lalu Muhammad Nurul Wathoni, M.Pd.I. dan juga Sekprodi S3 Studi Islam, Prof. Dr. H. Sainun, M.Ag., Kaprodi S3 Hukum Keluarga Islam (S3 HKI) sekaligus sebagai narasumber, Sekretaris S2 MPI Afifurrahman, M.Pd., Ph.D., juga sekaligus sebagai pemateri, Sekretaris S2 HKI Dr. Muhammad Fikri, MA. Juga kegiatan ini diikuti para penghulu dari KUA se-Kabupaten Lombok Tengah dan Lombok Utara, masing-masing dua perwakilan perkecamatan beserta peserta lainnya dari perwakilan akademisi, mahasiwa dan institusi lainnya. Dengan jumlah keseluruhan 60 peserta.


Pelatihan dirancang untuk memperkuat kemampuan literasi digital dalam penulisan karya tulis ilmiah secara substantif, serta keterampilan teknis pengelolaan referensi berbasis digital menggunakan aplikasi mendeley dan zotero. Program ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kapasitas aparatur Kementerian Agama agar mampu memproduksi karya ilmiah berbasis praktik profesional di lapangan dan pemanfaatan teknologi.
Rangkaian acara dibuka oleh MC Pratiwi Andriani mahasiswi S2 HKI, dilanjutkan pembacaan Kalam Ilahi oleh Alifya Lutfiana mahasiswi IQT. Sambutan pertama disampaikan Dr. Lalu Muhamaad Nurul Wathan sebagai ketua tim pengabdi, menegaskan pentingnya literasi digital dalam penulisan karya tulis ilmiah bagi aparatur KUA di lingkungan Kementerian Agama.


“Kita semua memahami bahwa seorang penghulu tidak hanya menjalankan tugas pencatatan pernikahan, tetapi juga merupakan role model dalam memberikan layanan keagamaan dan sosial kepada masyarakat. Karena itu, peningkatan kompetensi, termasuk dalam penulisan karya ilmiah, sangat penting bagi pengembangan profesionalisme para penghulu”. Jelasnya.
Menurutnya, di era transformasi digital saat ini, kemampuan menulis karya ilmiah tidak lagi semata-mata menjadi kebutuhan akademisi, tetapi juga kebutuhan aparatur negara dalam meningkatkan kualitas kebijakan, layanan, dan berbagai inovasi di lapangan. KTI dan literasi digital bukan lagi keterampilan tambahan, tetapi merupakan kompetensi dasar yang harus dimiliki terutama ketika kita berhadapan dengan tuntutan transparansi, akuntabilitas, dan dokumentasi pelayanan publik.
“Melalui pelatihan ini, kami berharap para peserta tidak hanya memperoleh pemahaman teknis tentang penulisan karya ilmiah, tetapi juga memahami bagaimana memanfaatkan berbagai perangkat digital—mulai dari aplikasi referensi, aplikasi anti-plagiasi, hingga platform publikasi ilmiah—sebagai bagian dari kerja profesional penghulu di era modern” himbau Wathan.
Tambahnya, kegiatan ini dirancang untuk mendorong terciptanya budaya meneliti dan menulis di lingkungan KUA. “Kami percaya bahwa pengalaman para penghulu di lapangan sangat kaya dan layak dituliskan sebagai bahan ilmiah maupun best practice yang dapat menginspirasi banyak pihak, termasuk mahasiswa, akademisi, dan para pemangku kebijakan. Kami juga berharap, setelah pelatihan ini, akan lahir karya-karya tulis ilmiah dari para penghulu yang dapat dipublikasikan di jurnal, prosiding, atau laporan penelitian, sehingga kontribusi KUA terhadap pengembangan keilmuan dan pelayanan publik semakin nyata” harapnya.
Sambutan berikutnya disampaikan Prof. Dr. H. Sainun, M.Ag., yang menekankan urgensi peningkatan budaya menulis dan riset profesional berbasis realitas lapangan. Acara pembukaan ditutup dengan doa oleh Prof. Dr. H. Lalu Supriadi Bin Mujib, MA., disela waktu coffee break peserta mengerjakan soal pre-test untuk mengukur pemahaman awal yang kemudian di akhir materi dengan menjawab post-test.
Pada sesi materi pertama, Prof. Dr. H. Lalu Supriadi Bin Mujib, MA., memberikan pemaparan mendalam terkait penyusunan karya ilmiah. Ia menyoroti pentingnya pemilihan topik yang relevan dengan tugas penghulu, perumusan masalah yang tajam, dan pemetaan literatur mutakhir.
Menurut Prof. Supriadi, karya ilmiah idealnya berangkat dari persoalan nyata seperti dinamika perkawinan, proses mediasi, hingga fenomena sosial-keagamaan di masyarakat. “Tulisan profesional harus lahir dari realitas yang dihadapi penghulu setiap hari, lalu dianalisis dengan teori dan metodologi yang tepat,” ujarnya.
Sesi berikutnya dibawakan oleh Afifurrahman, M.Pd., Ph.D., yang menyampaikan pelatihan teknis bertajuk Penguatan Literasi Digital dalam Menulis dan Mempublikasikan Karya Ilmiah. Peserta diajak praktik langsung instalasi Mendeley, perbaikan metadata, pembuatan library, penggunaan plugin Mendeley Cite di Microsoft Word, hingga penataan daftar pustaka otomatis.
Pelatihan ini disambut antusias karena selama ini sebagian besar penghulu masih membuat sitasi dan daftar pustaka secara manual.
Sesi tanya jawab berlangsung interaktif. Berikut poin-poin penting yang mengemuka dalam diskusi seperti yang disampaikan Taufikurrahman dari KUA Janapria yang meminta tutorial rinci penggunaan Mendeley, seperti pembuatan footnote dan daftar pustaka otomatis. Afifurrahman, Ph.D., langsung merespon permintaan tersebut dengan memaparkan langkah teknis penggunaan Mendeley, termasuk memilih gaya sitasi berbasis notes and bibliography untuk menghasilkan footnote otomatis. Ia juga menawarkan workshop lanjutan bagi peserta. Afifurrahman, Ph.D. juga menambahkan strategi pencegahan plagiarisme melalui sitasi konsisten, parafrase yang benar, dan penggunaan alat pemeriksa plagiarisme.
Pertanyaan lainnya dari Muhammad Zainuri dari KUA Praya mempertanyakan urgensi penulisan ilmiah bagi penghulu yang dihadapkan pada beban kerja tinggi serta kekhawatiran terkait kebaruan penelitian dan plagiarisme. Menjawab pertanyaan ini Prof. Supriadi menekankan manfaat menulis sebagai dokumentasi profesional dan sarana peningkatan karier. Ia menyarankan micro-writing serta fokus pada konteks lokal sebagai bentuk kebaruan.
Lalu pertanyaan berikutnya dari Hartawan KUA Praya Timur mengungkapkan kesulitan dalam merumuskan judul dan menjaga konsistensi menulis. Dalam hal ini Prof. Supriadi menganjurkan pembuatan outline, penulisan bertahap 300–500 kata per sesi, dan pembentukan writing group. Sementara Afifurrahman, Ph.D. menekankan pentingnya penguasaan alur kerja digital agar proses penulisan tidak terhambat masalah teknis.
Diskusi mengerucut pada kebutuhan peserta akan pendampingan berkelanjutan berupa tutorial praktik, mentoring penulisan, serta dukungan kelembagaan dari KUA maupun Pascasarjana UIN Mataram. Para narasumber menyatakan kesediaan memberikan workshop intensif apabila diusulkan kembali. Dan komunikasi senantiasa tetap dijaga melalu group whatsApp yang sudah dibuat, sekaligus menjadi wadah coaching clinic bagi artikel penghulu KUA Lombok Tengah dan Lombok Utara.
Menjelang akhir acara, panitia membagikan post-test melalui link google form dan mencatat adanya peningkatan signifikan pada aspek pemahaman struktur penulisan ilmiah, teknik sitasi, dan keberanian memulai tulisan. Kegiatan ditutup dengan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat.
Pascasarjana bersama LP2M UIN Mataram berharap pelatihan ini menjadi agenda yang berkelanjutan sesuai harapan para peserta kepada tim pengabdi. Sehingga terbangun budaya menulis ilmiah di kalangan penghulu KUA se-Lombok Tengah dan Lombok Utara yang bukan bersifat musimaan atau paksaan seperti adanya perintah mengikuti lomba KTI bagi punghulu dari Kementria Agama, sekaligus memperluas jejaring kolaborasi antara dunia akademik dalam hal ini UIN Mataram dan institusi keagamaan lainnya.