ZAINUDIN: Mahasiswa Pascasarjana HKI UIN Mataram: Sebuah kisah menarik sekaligus menyedihkan datang dari Dusun Jurang Gadung, Desa Suwangi Timur, Kecamatan Sakra, Lombok Timur. Seorang pemuda berinisial K. berusia 28 tahun yang dikenal mapan, berpendidikan, dan berakhlak baik dikabarkan mengurungkan niatnya untuk menikah padahal sebelumnya sudah tersebar luas rencana pernikahannya kepada banyak orang. Keputusan itu membuat banyak keluarga, teman, ataupun masyarakat terkejut dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Setelah diusuk-usuk, ternyata alasannya pun cukup klasik namun masih kuat dipercaya oleh sebagian masyarakat setempat. Perhitungan urige menunjukkan ketidakcocokan antara kedua calon mempelai.
Dalam adat Sasak-Lombok, Urige itu sendiri apabila ditujukan kepada masalah tentang pernikahan maka artinya adalah mencari atau menentukan hal-hal yang berkaitan tentang pernikahan, seperti kapan hari yang paling bagus untuk melaksanakan proses perkawinan, bagaimana untung jodoh yang akan didapatkan atau bagaimana keserasian rumah tangga yang akan didapatkan jika melangsungkan pernikahan dengan seseorang yang akan dinikahi. Dalam konteks ini urige adalah suatu metode atau cara yang digunakan (menghitung aksara nama) untuk mengetahui bagaimana hasil yang akan didapatkan jika menikah dengan seseorang yang akan dinikahi.
Pemuda tersebut, telah menjalani hubungan dengan calon mempelai perempuan (berinisial P.) lebih kurang 2 tahun. Diketahui bahwa perempuan yang sudah memasuki usia pernikahan itu berasal dari Dusun Blide, Desa Santong, Kecamatan Terara, Lombok Timur. Rencana pernikahan mereka berdua sangat ditunggu-tunggu dan diharapkan segera terlaksana. Namun, suasana berubah menjadi sunyi setelah pihak pria melakukan urige. Dari hasil perhitungan yang dilakukan oleh seorang belian (orang pintar), diketahui bahwa aksara nama K. selaku calon suami dan aksara nama P. selaku calon istri dianggap bertentangan. Dengan kepercayaan setempat, pasangan dengan hitugan yang tidak cocok dikhawatirkan akan mengalami kesulitan hidup, sering berselisih, atau gagal membangun rumah tangga yang harmonis.
Kabar pembatalan itu cepat menyebar di kalangan warga Dusun Jurang Gadung. Keputusan K. menuai beragam tanggapan. Banyak yang merasa prihatin, namun banyak juga yang mendukung. “Dia itu anak yang baik, berpendidikan, sudah mempunyai rumah dan pekerjaan tetap. Walaupun dia mengurungkan rencana pernikahnnya, tidak jadi masalah. Dia pun masih muda, masih bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi sampai menemukan calon istri yang baik dan cocok dengannya.” Ujar salah satu warga.
Dalam keterangannya si pria, ia mengatakan bahwa dirinya tidak menyesal dengan keputusan yang telah dibuat. “Walaupun perasaan cinta sudah lama tumbuh, saya tidak merasa berat mengurungkan pernikahan ini. Kata belian, kalau saya jadi menikah maka hubungan tidak akan harmonis, istri akan keras kepala dan tidak mau mengalah dengan suami. Apapun yang menjadi keinginan istri maka suami akan dituntut paksa untuk bisa mengabulkannya. Dan setelah saya pikir-pikir, ternyata perkataan belian itu ada benarnya. Beberapa sifat yang telah disebutkan oleh belian memang benar adanya pada perempuan tersebut, yang kemudian membuat saya berpikir ulang dan menganggap bahwa pernikahan ini memang tidak cocok untuk dilangsungkan.” Ujar si pria.
Peristiwa ini memunculkan beragam pandangan di masyarakat. Sebagian masih meyakini bahwa tradisi urige adalah bagian penting dari adat Sasak yang tidak boleh diabaikan. Namun sebagian lainnya menilai bahwa tradisi tersebut sebaiknya perlu dikikis, dan diganti dengan jalan istikharah sebagaimana ajaran Nabi Muhammad saw. Karena sejatinya, urige sifatnya adalah ramalan yang tidak jauh beda dengan BMKG, dimana kebenarannya tidak pasti dan dapat berubah-ubah. Selain itu, tak jarang pula tradisi ini menjadi ujian antara keyakinan dan logika dalam menentukan langkah hidup seseorang.
Pada akhirnya, kisah ini buka sekedar tentang batalnya sebuah pernikahan, melainkan juga tentang pertarungan halus antara cinta, adat, dan takdir. Karena dibalik segala perhitungan manusia, hanya Allah yang paling tahu kapan dan dengan siapa seseorang akan benar-benar menemukan jodohnya.