Pada hari selasa, tanggal 19 November 2024, Writing and Publication Centre (WPC) Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram melaksanakan kegiatan penguatan literasi dan akselerasi publikasi ilmiah bertemakan “Literasi Publikasi ilmiah Mahasiswa Pascasarjana UIN Mataram” diselenggarakan oleh Magister Pendidikan Bahasa Arab. Acara bertempat di Aula Pascasarjana UIN Mataram. Dan dihadiri oleh Direktur Pascasarjana UIN Mataram Bapak Prof. Dr. TGH. Fahrurrozi Dahlan, QH., SS., MA, Ketua Prodi S2 PBA Dr. H. lalu Agus Satriawan, M.Ag., Dosen S2 PBA Pascasarjana UIN Mataram, Dr. Muhammad Mugni Assapari, M.Pd. selaku Narasumber, dan Semua Mahasiswa S2 PBA semester I dan Semester III.

Kegiatan dimaksudkan bertujuan untuk mendorong mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan dalam menulis artikel ke sinta maupun scopus yang menjadi salah satu syarat untuk pengambilan Ijazah bagi mahasiswa Pascasarjana program Magister maupun Doktoral. Minimal sinta 4 bagi mahasiswa Magister (S2), dan Sinta 2 bagi mahasiswa Doktoral (S3)

Narasumber kegiatan adalah Dr. Muhmmad Mugni Assapari, M.Pd. BI, yang merupakan Dosen S2 PBA Pascasarjana UIN Mataram.

Kegiatan ini dibuka oleh Direktur Pascasarjana Prof. Dr. TGH. Fahrurrozi Dahlan, QH., SS., MA. Dalam sambutannya Bapak direktur menekankan kepada semua mahasiswa untuk selalu belajar menulis artikel yang baik dan benar supaya bisa diterima di jurnal-jurnal yang sudah terakreditasi Sinta, minimal Sinta 4. Dan beliau juga membacakan surat Al-Fatir ayat 32 sebagai inspirasi kepada mahasiswa S2 PBA yaitu:

(ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ)

Artinya: Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia.

Dari ayat ini beliau menafsirkan dari sudut pandang akademik yaitu, ada 3 tipe mahasiswa/manusia Ketika dalam belajar

  1. فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ (menganiaya diri mereka sendiri), yaitu mahasiswa yang bermalas-malasan dalam belajar, maupun mengikuti kegiatan-kegiatan kampus, mereka tidak memperdulikan/mengurus diri sendiri. Bahkan mereka tidak serius untuk belajar hanya setor muka saja Ketika masuk kuliah, tanpa memperioritaskan diri untuk menggali kemampuan/potensi akademiknya.
  2. وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ (di antara mereka ada yang pertengahan), yaitu mahasiswa yang luar biasa, yang menggunakan waktunya untuk menggali potensi diri dengan cara terus menerus menulis tanpa hentinya demi mencapai hasil yang maksimal. Mereka rajin menulis, rajin membaca, rajin mencari informasi-informasi tentang penulisan karya ilmiah. Akan tetapi tingkatan mahasiswa dengan tipe ini masih dalam rahap regional.
  3. وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ (diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah) yaitu: mahasiswa yang selalu terdepan dalam mengembangkan akademiknya baik ke Tingkat regional maupun internasional. Dan membuktikan diri dengan terpublish tulisan-tulisannya baik di Sinta maupun ke scopus.

Setelah acara dibuka oleh Direktur pascasarja, kemudian acara dipandu oleh Sekretaris Prodi Magister PBA Pascasarjana Dr. H. Abdul Azis, M.Pd.I, dan acara langsung diberikan sepenuhnya kepada Narasumber Dr. Muhmmad Mugni Assapari, M.Pd.BI.,

Dalam pemaparannya, Dr. Muhmmad Mugni memberikan tips-tips dan alat-alat yang dipakai dalam membantu percepatan menulis karya ilmiah seperti menggunakan AI Chat GPT, Grammarly, dll. Yang mana secara garis besar beliau menyampaikan bahwa dalam menulis sebuah karya ilmiah harus mempunyai ketekunan, ketelitian dan kesungguhan, supaya hasilnya maksimal dan bisa terpublish dalam jurnal-jurnal Sinta maupun scopus. Kemudian menulis karya ilmiah juga jangan terlalu ketergantungan terhadap alat-alat bantu digital seperti AI dll-nya akan tetapi membutuhkan sentuhan ide dari penulis itu sendiri supaya orsinil apa yang di tulis.

Terakhir beliau juga berpesan kepada semua peserta bahwa, seperti apapun cara kita untuk memparapharase tulisan menggunak AI Human, QuilBot, dan semacamnya semuanya masih tetap terdetek oleh alat yang Bernama AI Detector, dsb.