Salah satu keberkahan Allah pada hr selasa, 2 September 2024 adalah program magister IQT UIN Mataram dapat mengikuti kegiatan The 7th AIAT se-Indonesia Annual Metting and International Conference yg diadakan di kampus IAIN Kediri, kegiatan ini akan berlangsung sampai hr Kamis, 5 September 2024.

Dalam pembukaannya Presiden AIAT. Prof. Dr. Phil Sahiron, MA. Menerangkan latar belakang tema international conference AIAT yakni “Towards A Surah Based Research On The Qur’an”, yakni penelitian dan studi al-Qur’an dimasa-masa yang akan datang harus dilatarbelakangi dengan memahami isi pokok yang menjadi tema utama dalam suatu surah sl-Qur’an.

Sambutan kedua dari steakholder IAIN Kediri yang sekaligus Rektor Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri, DR KH. Reza Ahmad Zahid, Lc.MA., menyampaikan pemikirannya tentang urgensinya kajian kitab-kitab tafsir yang masuk katagori kitab klasik atau turats seperti kitab tafsir “Jalalain”, tafsir “Ibnu Katsir”, tafsir “al-Manar” dan kitab tafsir klasik yang lainnya. Hal ini menurut Gus Reza karena kitab-kitab klasik atau turats memiliki empat kelebihan yakni Ikhlas Muallifin, Amanah Muallifin, Ilmu Muallifin dan Amal Muallifin.

Rektor IAIN Kediri Dr. KH. Wahidul Anam, MAg, sebagai tuan rumah AIAT yang ke-7, menegaskan penting sanad dalam pengembangan keilmuan-keilmuan Islam khususnya keilmuan studi al-Qur’an dan tafsir antar PTAIN/PTAIS seindonesia, sehingga keberadaan asosiasi prodi IAT/IQT sangatlah urgen dalam penguatan sanad keilmuan Islam.

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA. yang mnjadi keynote speker dihari pertama dalam sesi international conference mengutarakan penting “Epistimologi Qur’ani” sebagai basis dalam melaksanakan penelitian di PTAI, seperti basis keilmuan yang mendasarkan kepada mimpi seperti Nabi Ibrahim ke Nabi Ismail, keilmuan Nabi Sulaiman yang berepistimologi terhadap Burung, Nabi Musa mendapatkan ilmu dari pergerakan Pohon. Sehingga mempelajari al-Qur’an sebagai “Kalamullah” bukan hanya sebagai “Kitabullah”. Ketika al-Qur’an diposisikan sebagai “Kalamullah” syarat untuk untuk mengkajinya adalah “thaharah (laa yamussuhu illa al-Muthahharun” yakni tazkiyah al-jism dan tazkiyah al-Nafsi. Sementara jika al-Qur’an dikaji sebagai “Kitabullah”, maka hanya mensyaratkan tazkiyah al-jism seperti mandi, membersihkan kencing atau kotoran yang lainnya, hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh orang non muslim ketika mengkaji al-Qur’an maka tidak untuk membersihkan jiwa dan pikiran mereka akhirnya mereka tetap saja meminum khamr, makan daging babi, anjing dan lainnya. Selanjutnya Imam Besar masjid al-Istiqlal ini, menjelaskan bahwa kajian al-Qur’an di PTAI harus sampai Iqra’ ke-empat sebagaimana awal turunnya al-Qur’an kata “Iqra” diulangi sebanyak empat kali. Kemudian Prof. Nasar mengumpamakan seperti orang membaca “pohon kelapa”, maka iqra’ pertma: seseorang melihat pohon kelapa itu indah dan tdk ada duanya. Iqra’ kedua: seorang tersebut berfikir pohon kelapa itu bnyak manfaatnya seperti airnya dapat dibuat es, isi dalamnya dapat dijadikan santan, batangnya dapat menjadi bahan bangunan dll. Iqra ketiga: seorang tersebut berpikir bagaimana perjuangan orang tuanya menanam pohon kelapa tersebut sampai pohon itu besar dan memiliki manfaat, sehingga seorang tersebut mulai mengadakan perenungan. Adapun Iqra keempat : bahwa pohon kelapa tersebut memiliki manfaat yang banyak utk manusia karena dia selalu sujud, dzikir, dan beribadah kepada Allah SWT, akhirnya seorang tersebut merasa bahwa dia tidak ada apa-apanya ketimbang pohon kelapa tersebut dalam beribadah kepada Allah SWT, baik ibadah yang bersifat sosial ataupun individu.

Hari kedua international conference diawali dengan penyampaian materi oleh Prof. Jajang dari IAT UIN Gunung Jati Bandung yang inti kajiannya tentang paradigma tafsir nusantara khususnya tafsir A. Hasan yg dilatarbelakangi dengan organisasi keagamaan PERSIS, walaupun dalam kitab tafsirnya banyak mengutip dari kitab-kitab turats seperti tafsir Ibnu Katsir, tafsir al-Kasysyaf dll, akan tetapi A. Hasan mengakulturasi penafsirannya dengan kondisi masyarakat sunda yg mayoritas berorganisasi keagamaan PERSIS. Adapun keynote speakers dihari kedua berasal dari Univ.Oxford yakni Nicolas Sinai, lewat link zoom Prof. Oxford ini mengungkapkan pentingnya pembacaan al-Qur’an dengan kajian tematik dan kajian surah per surah dalam al-Qur’an sehingga dapat mngambil pesan inti dalam suatu surah dan akan dapat menemukan beberapa kalimat yang sering dipakai dlm suatu surah seperti kata “awala tu’min” yang jawabannya selalu ” Qaluu balaa walakin” dan pembacaan surah per surah dalam al-Qur’an akan lebih dapat merenungi makna surah secara inklusif.

Pada sesi terakhir di forum AIAT ke-7, sebagai pembicara adalah pakarnya ulama tafsir Indonesia yakni Prof. Dr. Qursish Shihab, MA, menjelaskan pentingnya tafsir isyari dalam memahami al-Qur’an, dimana tafsir Isyari berkekuatan pada kajian kosakata-kosakata yang terdapat dalam ayat-ayat al-Qur’an sebagai pembentuk penamaan suatu surah.

Akhirnya kegiatan annual metting AIAT ke-7 dan international conference ini ditutup dangan mengeluarkan beberapa rekomendasi yang diproses melawati rapat komisi dan pleno oleh semua peserta. Diantara rekomendasi tersebut adalah a). Pembentukan dewan adhock kurikulum prodi IAT/IQT untuk jenjang S1, S2 dan S3. b). Memperluas jaringan perekrutan anggota AIAT baik dinternal PTAIN dan PTAIS. c). Memperkuat dalam penulisan artikel dan ke-jurnal-an yang berbasis kajian ilmu al-Qur’an dan tafsir. d). Diadakannya kajian rutin online setiap malam reboan, dua kali dalam sebulan yang pembahasannya didasari kajian-kajian kitab tafsir klasik. Akhirnya annual metting AIAT ke -7 dan international conference yang tuan rumahnya IAIN Kediri yang berkolaborasi dengan Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri ditutup dengan do’a yang dipimpin oleh Presiden AIAT dan dilanjutkan dengan sholawatan oleh semua peserta forum AIAT ke-7 tahun 2024.