Konferensi Antarbangsa Islam Borneo (KAIB) Borneo adalah acara konfrensi tahunan yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi Islam dari negara rumpun melayu (Borneo), termasuk Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. KAIB yang ke-15 kali ini, Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA) Brunei Darussalam menjadi tuan rumah, dan mengangkat tema “Developing Islamic Sustainable Urban and Communities” yang diselenggarakan di International Convention Centre Brunei Darussalam. Para delegasi dari berbagai negara menghadiri acara tersebut seperti para profesional, akademisi, dan mahasiswa dari berbagai perwakilan perguruan tinggi Islam negara rumpun melayu seperti Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

KAIB Borneo 15 ini diikuti oleh 256 presenter, dengan berbagai disiplin ilmu mulai dari Hukun, Ekonomi, dakwah dan ilmu komunikasi, pendidikan dan teknologi informasi, kesehatan dan konseling, dan sebagainya guna memperkaya karya ilmiah, meningkatkan kualitas penelitian, mempererat ikatan persaudaraan dan jaringan strategik untuk memajukan dan meningkatkan peradaban Islam di bumi borneo (Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam).
Acara pembukaan Konfrensi Internasional ke 15 dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 5 Juni 2024 dihadiri sultan Brunai Darussalam yakni Yang Mulia Haji Hasanal Bolkiah Mu’izzaddin Wad’daulah ibni Omar Ali Saifuddien Sa’adul Khairi Waddien. Haji Hasanal Bolkiah seluruh kabinet, seluruh duta besar, beberapa Rektor dari Malaysia, Indonesia dan Brunai Darussalam. Dalam sambutannya Sultan Hasanal Bolkiah menyampaikan bahwa Konfrensi Internasional Borneo harus menghasilkan ide-ide dan pemikiran cemerlang melalui penguasan ilmu pengetahuan dengan sebenarmya untuk kemajuan dan kejayaan Islam pada masa yang akan datang dengan cara memelihara dan mengambangkan sejarah tamaddun Islam yang ada di dunia melayu khususya Indonesia, Malaysia dan Brunai.
Sesi kedua adalah panel umum dengan tema Membangun Masyarakat dan Perbandaran Islam yang Mampan, yang disampaikan oleh para ahli dan pakar dari berbagai negara seperti Indonesia, Malaysia, dan Brunai Darussalam.
Duta Besar Indonesia untuk Brunai Darussalam, Prof. Dr. KH. Ubaedullah memaparkan tentang pentingnya moderasi beragama di Indonesia, Malaysia dan Brunai Darussalam, lebih lanjut beliau mengharapkan bahwa model moderasi beragama yang dilakukan di tiga negara melayu tersebut menjadi sebuah peradaban baru dalam Islam yang bisa dicontoh oleh negara Islam lainnya di belahan dunia. Ketua Baznaz Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nur Ahmad memaparkan tentang pentingnya pemberdayaan dan pengelolaan zakat untuk kepentingan masyarakat, terutama untuk peningkatan sumberdaya manusia dalam bidang tehnologi dan pendidikan.
Selanjutnya presentasi paper para peserta dari berbagai negara dan disiplin ilmu sebagaimana tertera dalam jadwal yang telah ditentukan oleh panitia.

Para presenter dari UIN Mataram antara lain adalah Rosalina Utami dan Rendra Khaldun demgan judul LGBT, The Exsiatence in the Island of Thousand Mosques: a Sosiological Perspectives and Health, a Case Study in Mataram Lombok”; Ahmad Nurjihadi dengan judul No Fault Divorse Dircourse in Turkey, Tunish and Indonesia (Comparative Studies on Legal Consciousnes Perspective) mewakili S3 HKI. Sabri dengan Judul Manhaj Islam Nusantara; Novi Pratama dengan judul Pencatatan Perkawinan Perspektive Maqashid Shari’ah Yasser Audah,Study Comparative Indonesia and Mesir, Mewakili S2 HKI dan Ayu Rosita Anggraini S2 ES dengan judul Development of Creative Economy based Micro, Small, and Medium Enterprises in West Nusa Tengara Province.

Kegiatan Konfrensi Internasional Antar Bangsa Borneo XV diakhiri dengan Pada penyerahan sertifikat sebagai simbol penghargaan dan hubungan persahabatan antarbangsa sekaligus penandatangan MoU dan MoA dengan beberapa perguruan tinggi di Indonesia sebagai bagian untuk meningkatkan kerjasama tri dharma perguruan tinggi. (RK)